Berita Terbaru :
Angka Covid-19 Di Tuban Melandai, Angka Sembuh Tinggi
Awal Musim Penghujan, Fokus Kerawanan Bencana Angin Puting Beliung dan Banjir
Kreasi Pandemi Bonsai Kelapa Media Air
Pameran Hasil Karya SMA Double Track
Bupati Lumajang Konsolidasi Pemenangan Pasangan Ladub
Usaha Ditengah Pandemi, Pengerajin Aquarium Mini Unik Tembus Pasar Internasional
Libur Panjang, Banyak Pengunjung Berwisata ke Sumber Air Growgoland
Hendak Mencuri Motor Residivis Keok Ditangan Polisi
Libur Panjang, Ratusan Personil Gabungan Disiagakan
   

SK PSSI soal Pemotongan Gaji di Masa Pandemi Tidak Berkekuatan Hukum
Sepak Bola  Senin, 17-08-2020 | 00:10 wib
Reporter :
Jakarta pojokpitu.com, Kesaktian surat keputusan PSSI yang mengatur soal pemotongan gaji pemain selama pandemi korona terbukti tidak ampuh. Sebab, SK tersebut ternyata tidak berkekuatan hukum. Salah satu faktanya adalah dua keputusan dari NDRC.

Yang pertama adalah berdasar laporan dari 27 pemain Perserang Banten. Laporan itu terkait gaji Maret hingga Mei. Dalam keputusan NDRC, Perserang wajib membayar 100 persen gaji pemain untuk Maret dan sisanya boleh 25 persen.

Yang paling baru adalah pemain PSKC Cimahi. Yang mana, NDRC memutuskan PSKC wajib membayar gaji dua pemainnya pada Maret hingga Mei sebanyak 100 persen. Padahal, SK PSSI menentukan bahwa klub hanya diwajibkan membayar 25 persen.

General Manager APPI (Asosiasi Pemain Profesional Indonesia) Ponaryo Astaman menyatakan, dua keputusan itu membuktikan bahwa SK PSSI tidak berfungsi. "Ini kan artinya SK PSSI itu tidak berpengaruh sama sekali terhadap kontrak pemain," katanya.

Yang ditakutkan Ponaryo, PSSI dan klub tidak memahami arti sebenarnya dari keputusan tersebut. Jika itu terjadi, bisa saja semua pemain di Indonesia melaporkan mengenai gajinya ke NDRC. Kalau diputuskan, bisa saja pemain mendapatkan hak justru 100 persen dari gajinya selama pandemi korona. "Jadi, kalau sekarang jangankan menuntut 50 persen sesuai rekomendasi APPI, 100 persen pun bisa disahkan dan sah dilakukan juga," tegasnya.

Karena itu, Ponaryo berharap PSSI kembali meralat soal SK tersebut. Kembali memikirkan hasil diskusi yang sudah dilakukan dengan APPI sebelum mengeluarkan SK soal pemotongan gaji. "Untuk yang paling baru ini, kami kan sudah merekomendasikan pemotongan 50 persen dari gaji per bulan, tapi diabaikan. Malah memilih kisaran 50 persen dari nilai kontrak," bebernya.

APPI tidak bisa menjamin tidak ada pemain yang kembali melaporkan terkait pemotongan gajinya. Ada pemain yang tidak sepakat dan melakukan tuntutan balik. "Kalau itu terjadi, apa tidak menambah beban untuk klub?" tuturnya.

Ponaryo berharap PSSI segera membalas surat respons APPI. Kembali duduk bersama membahas jalan terbaik mengenai pemotongan gaji. "Sampai sekarang surat itu belum dibalas. Kami juga sudah mengirimkan surat kedua kemarin," jelasnya.

Mantan kapten timnas Indonesia itu menjelaskan, rekomendasi APPI soal pemotongan gaji tersebut merupakan aspirasi dari pemain. "Suara pemain sudah seharusnya didengarkan PSSI dan dimasukkan ke dalam SK. Karena yang tanda tangan kontrak itu pemain dan klub, jadi PSSI harus memperhatikan itu," pungkasnya. (Jawapos/yos)


Berita Terkait

SK PSSI soal Pemotongan Gaji di Masa Pandemi Tidak Berkekuatan Hukum

Timnas Belum Latihan, PSSI Berdalih Jumlah Peserta Swab Test Banyak

Ketum PSSI Beri Motifasi Para Punggawa Timnas

Arema FC Tunggu Keputusan PSSI Terkait Gaji dan Rekontrak
Berita Terpopuler
Libur Panjang, Ratusan Personil Gabungan Disiagakan
Peristiwa  8 jam

Hendak Mencuri Motor Residivis Keok Ditangan Polisi
Peristiwa  7 jam

Libur Panjang, Banyak Pengunjung Berwisata ke Sumber Air Growgoland
Mlaku - Mlaku  6 jam

Pameran Hasil Karya SMA Double Track
Pendidikan  3 jam



Cuplikan Berita
Kebakaran Pemukiman Padat Penduduk, Dua Rumah Petak Ludes Terbakar
Pojok Pitu

Diduga Korsleting Listrik, Dua Kafe di Area Alon-Alon Kota Terbakar
Pojok Pitu

Terjatuh Dari Motor Curiannya, Pelaku Babak Belur Dimassa
Jatim Awan

Banjir Lahar Ganggu Aktivitas Warga dan Penambang
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber