Berita Terbaru :
Bebas Zona Merah, Dinas Pendidikan Jatim Akan Tambah Sekolah Tatap Muka
Tolak UU Cipta Kerja, Demo Ribuan Buruh Macetkan Perempatan Rajabali
Sejumlah Perkantoran dan Toko Tutup, Massa Aksi Berkumpul di Jalan Basuki Rahmat Menuju Grahadi
Viral, Aksi Patriotik Abang Becak Mengganti Bendera Rusak Dengan Baru Dari Hasil Urunan Sendiri
BNNP Musnahkan 11 Kilogram Barang Bukti Sabu
Pemkot Surabaya Gelar Deklarasi Jogo Suroboyo Damai
Abaikan Prokes, Ratusan Pelaku UMKM Berdesakan Ambil Formulir Bantuan Presiden
Gelar Aksi Demo, Puluhan Mahasiswa Blokir Jalur Pantura
Curi Emas Senilai Rp 128 Juta, Dua Pencuri Diringkus Polisi
Susur Sungai, Bupati Temukan Sampah Popok Bayi Potensi Mencemari
Polisi Gelar Rekontruksi Kasus Pengeroyokan Berujung Kematian
Derita Bocah 5 Tahun, Setelah Kaki Kanannya Harus Diamputasi
Pasca Kiyai Kampung Tarik Dukungan, Wakil Ketua Pemenangan Kelana Angkat Bicara
Warga Dihebohkan Penemuan Kerangka Manusia di Lahan Pohon Jati
Diduga Langgar Netralitas, ASN di Banyuwangi Dilaporkan ke Bawaslu
   

Masuk Musim Panen, Kualitas Cabai Menurun
Ekonomi Dan Bisnis  Minggu, 20-09-2020 | 10:15 wib
Reporter : Samsul Alim
Beginilah kondisi tanaman cabai merah di Desa Glagah Wangi, Kecamatan Sugihwaras Kabupaten Bojonegoro. Foto: Samsul Alim
Bojonegoro pojokpitu.com, Akibat terserang penyakit memasuki masa panen tanaman cabai merah di Desa Glagah Wangi Kecamatan Sugihwaras Kabupaten Bojonegoro, membuat tanaman cabai rusak dan petani terancam merugi.

Tanaman cabai yang berusia kurang lebih 2 bulan dan sudah memasuki musim panen ini, justru kualitas buahnya menurun.
Seperti yang dialami oleh Wage, salah satu warga desa setempat, tanaman cabai seluas 1 hektar miliknya terlihat layu dan buahnya mengngeriting. "Hal ini berdampak pada harga penjualan cabai yang saat ini berkisar 8 ribu hingga 9 ribu rupiah setiap kilogramnya," terangnya.

Padahal, menurutnya harga jual cabai pada tahun lalu berkisar Rp 40 ribu setiap kilogramnya. Rusaknya tanaman cabai disebabkan oleh virus yang mengakibatkan daun dan buah tidak dapat tumbuh secara normal dan segar.

Wage menambahkan, saat ini dirinya hanya bisa merawat tanaman miliknya dengan obat tanaman seadanya. "Pasalnya obat untuk penyakit yang menyerang tanaman cabai ini cukup mahal dan susah untuk mendapatkannya," terang Wage.

Petani hanya bisa pasrah meski harus menelan kerugian yang cukup besar, petani juga berharap pemerintah dapat memberikan bantuan agar hasil panen bisa kembali normal. (yos)


Berita Terkait

Harga Cabe Menurun Petani Merugi

Masuk Musim Panen, Kualitas Cabai Menurun

Harga Cabai Murah, Petani Rugi Jutaan Rupiah

Dampak Korona Harga Cabe Mengalami Kenaikan
Berita Terpopuler
Pembelajaran Tatap Muka SMA/SMK Tergantung Izin Kepala Daerah
Pendidikan  9 jam

Razia Kos, Petugas Ciduk 11 Pasangan Mesum yang Asik Berduaan di Kamar
Peristiwa  5 jam

Penyekatan Massa Demo di Depan Gedung DPRD
Malang Raya  6 jam

Jelang Unras Omnibus Law, 61 Titik Dijaga Petugas Keamanan Gabungan
Metropolis  7 jam



Cuplikan Berita
Kebakaran Pemukiman Padat Penduduk, Dua Rumah Petak Ludes Terbakar
Pojok Pitu

Diduga Korsleting Listrik, Dua Kafe di Area Alon-Alon Kota Terbakar
Pojok Pitu

Jelang Unras Omnibus Law, 61 Titik Dijaga Petugas Keamanan Gabungan
Jatim Awan

Petani 24 Desa Terancam Kekeringan Akibat Tak Ada Saluran ke Sungai Induk
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber