Berita Terbaru :
57 Guru Jalani Rapid Test, 4 Reaktif Covid-19
Ratusan Pelajar SMPN di Surabaya Dites Swab
Puluhan Warga Jalani Rapid Akibat Kontak Erat Klaster Cindewilis
9 Orang Budak Narkoba Dibekuk Polisi, Salah Satunya Seorang Perangkat Desa
Menolong Kawan Yang Diceburkan, Siswa SMK Tenggelam di Sungai Buntung Desa Tawangsari
Belasan Pengrajin Emas Ditipu Milyaran Rupiah
Ditpolairud Polda Jatim Gagalkan Penyelundupan Ratusan Burung Dilindungi
Ketagihan Nyabu, Siswa SMK Nekat Jambret Tas Ibu Rumah Tangga
Kiai Asep Minta Masyarakat Menangkan Nomer 2 Machfud-Mujiaman Untuk Kalahkan Kedzoliman
Hasil Swab, Bupati Dadang Wigiarto Terkonfrim Positif Covid 19
Pembagian BLT Gunakan Protokol Kesehatan
Surat Suara Tiba, Proses Pelipatan Gunakan Protokol Covid
Guru Tidak Tetap Demo Sampaikan Problem Pendidikan di Jember
Tagih Jatah Warisan Tak Kunjung Diberikan, Pelaku Bakar Korban Yang Masih Saudara Sendiri
Bupati Periksa Kesiapan Logistik Jelang Pilkada
   

Petani 24 Desa Terancam Kekeringan Akibat Tak Ada Saluran ke Sungai Induk
Mataraman  Senin, 19-10-2020 | 11:00 wib
Reporter : Achmad Syarwani
Keluhan dan kekecewaan itu diungkapkan oleh sejumlah petani yang tergabung dalam Hippa dan FPSA di Nganjuk. Foto: Achmad Syarwani
Nganjuk pojokpitu.com, Sejumlah petani yang tergabung dalam Himpunan Petani Pemakai Air (Hippa) dan Forum Peduli Sumber Daya Air (FPSA) di Nganjuk mengeluhkan tentang pembangunan waduk semantok yang nantinya dinilai oleh petani tak memberikan manfaat maksimal pada irigasi pertaniannya.

Sebab tidak ada kejelasan adanya saluran suplisi menuju sungai induk petani, jika suplisi itu tidak dibangun, maka sebanyak 3242 hektar lahan di tiga kecamatan terancam kekeringan dan gagal panen.

Berdasarkan dari sketsa gambar bangunan terlihat berbeda antara sketsa lama yang disodorkan oleh petani dengan sketsa baru hasil revisi pemerintah. Diseketsa lama terlihat adanya saluran suplisi air yang langsung dari waduk semantok menuju sungai induk dilahan pertanian, sementara dari sketsa baru milik pemerintah saluran suplisi itu dihilangkan.

Atas tidak jelasnya saluran suplisi itu membuat resah para petani di 24 desa dan 3 kecamatan yaitu Kecamatan Rejoso, Gondang dan Tanjunganom, sebab lahan pertanian sebanyak 3242 hetar milik petani akan terancam kekeringan dan gagal panen.

Sebab, seharusnya dari saluran suplisi itu akan langsung mengalir ke sungai induk, dari sungai induk bisa langsung menuju sawah petani. Sehingga sawah petani bisa teraliri secara 100 persen.  

Suhartono petani warga Desa Campur Gondang, menjelaskan, sebelum di bangun waduk semantok, sungai induk hanya memapu
teraliri air sebanyak 25 persen saja dari suplai air yang berasal dari waduk kali bening Saradan Madiun, sehingga dengan adanya waduk semantok diharapkan air bisa mengalir sebanyak 100 persen melalui saluran suplisi tersebut.

"Namun jika saluran suplisi dari waduk semantok tak juga dibangun, maka keberadaan waduk semantok tidaklah bermanfaat untuk petani," terangnya.

Keresahan yang sama juga dirasakan oleh Marsono, Ketua Kelompok Hippa Kecamatan Rejoso, ia mendapat desakan dari para petani agar pemerintah bisa membangunkan siplisi saluran itu guna menanggulangi kekeringan di lahan sawahnya.

Sementara Ketua FPSA Kabupaten Nganjuk, Kuswodiono, mendesak, agar pemerintah pusat melalui Pemkab Nganjuk dan dinas terkait, segera meninjau ulang pembangunan semantok dan dibangunkan saluran air menuju sungai induk sesuai harapan petani pada awalnya.

Karena jika air dari waduk semantok dialirkan ke sungai semantok saja dan di tandon diwaduk waduk saja, maka akan menghambat aliran air yang menuju sawah warga dan terkesan pemborosan anggaran. "Sebab akan dibutuhkan pompa air dengan biaya yang besar, sehingga langkah efektif adalah membangun suplisi tersebut," tuturnya.

Kini para petani di Nganjuk hanya bisa berharap pada pemerintah pusat dan Pemkab Nganjuk agar bisa merealisasikan usulan rakyatnya, dan  memfungsikan waduk sebagaimana mestinya bukan hanya memanfaatkan waduk semantok sebagai wahana untuk wisata. (yos/VD:YAN)

Berita Terkait

Petani 24 Desa Terancam Kekeringan Akibat Tak Ada Saluran ke Sungai Induk

Embung Menyusut, Puluhan Hektar Sawah Dibiarkan Kering

Pemerintah Harus Bisa Mengatasi Kekeringan Jangka Panjang di Jatim

Airnya Menyusut, 15 Embung Tak Berfungsi
Berita Terpopuler
Sampah Plastik Diolah Bahan Bakar Alternatif Setara Pertamax
Teknologi  14 jam

Pelajar Edarkan Pil Y dan Buruh Tani Pil Koplo Dibekuk Polsek Lawang
Malang Raya  18 jam

Konsumsi Sabu Untuk Doping, Kuli Bangunan Dibekuk Reskrim Polsek Lawang
Malang Raya  16 jam

Kalangan Millenial Dominasi Pelanggar Protkes di Bangkalan
Peristiwa  21 jam



Cuplikan Berita
Mobil Pick Up Masuk Jurang Sedalam 100 Meter Lebih
Pojok Pitu

Ngopi Saat Jam Kerja, ASN Pemkab Bojonegoro Kocar-Kacir Saat Diamankan Satpol PP...selanjutnya
Pojok Pitu

Lahar Dingin Gunung Semeru Penuhi Sungai Besuk
Jatim Awan

Pecah Ban Elf Terguling di Jalur Tol, 1 Tewas
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber