Berita Terbaru :
Rujak Bawean Menjadi Kuliner Pelepas Rindu Perantau Dari Pulau Putri
Kabupaten Trenggalek Umumkan Pasien Pertama Positif Corona
Tim Medis Minim APD, Awak Media Salurkan 100 Unit Baju Hazmat
Kondisi Dua Warga Bapak Anak Positif Corona Terus Membaik
Wabah Corona, Pengusaha Konveksi Produksi Masker Handmade Dengan Motif Kekinian
Baru Bebas Lantaran Progam Asimilasi, Residivis Dihajar Warga Usai Kepergok Curi Motor
Forkopimda Beri Karangan Bunga dan APD Kepada Para Medis
Dampak Covid-19 Ratusan Napi Lapas Kediri Dibebaskan
SMKN 4 Madiun Siapkan APD Pesanan Pemprov Jatim
Diduga Terobos Traffic Light, Beat Tabrak Vega
   

Dampak Kemarau, Biaya Irigasi Petani Padi Meningkat
Mataraman  Rabu, 19-09-2018 | 03:15 wib
Reporter : Herpin Pranoto
Dalam satu musim tanam, mereka bisa mendapatkan??uang belasan juta rupiah. Foto: Herpin Pranoto
Ngawi pojokpitu.com, Musim kemarau membuat para petani tanaman padi di Kabupaten Ngawi, harus cerdas dalam manajemen usaha tani. Pasalnya, biaya pengairan meningkat hingga mencapai 40 persen dari total biaya tanam.

Saat panen raya biaya irigasi mengurangi keuntungannya, sebaliknya kemarau mebawa berkah tersendiri bagi pengelola sumur irigasi, karena pendapatannya ikut meningkat. Dalam satu musim tanam, mereka bisa mendapatkan  uang belasan juta rupiah.

Areal pertanian di Desa Watualang Kota Ngawi, saat musim kemarau terlihat hijaunya tanaman padi. Para petani harus berpikir keras, terkait pengelolaan usaha tani, khususnya kebutuhan irigasi.

Setiap 5 hari sekali, para petani  harus membeli air untuk mengairi sawahnya dari sumur dalam bantuan pemerintah pusat, yang di kelola oleh kelompok tani setempat.

Salah satu petani, Sadirin, menjelaskan, biaya irigasi cukup menguras dompet dengan tarif sekitar Rp 70 ribu per jam. Jika terlambat mengairi sawah, tanaman padinya beresiko tumbuh tak normal dan bahkan bisa  mati.

"Hingga menjelang panen tiba, sudah Rp 2 juta lebih biaya pengairan yang dikeluarkan, belum termasuk upah pekerja dan kebutuhan pupuk. Meningkatnya biaya irigasi, berdampak pada menipisnya keuntungan hasil panen," jelas Sadirin.

Pengelola sumur dangkal, Sukamto mengatakan, kemarau membawa berkah baginya, dalam dan sumur dangkal karena pendapatannya meningkat, untuk sumur pompa dalam pendapatan digunakan untuk biaya operasional dan biaya perbaikan.

"Pendapatan dikelola sendiri, dalam satu musim tanam saat kemarau kita bisa memperoleh uang belasan juta rupiah," ujar Sukamto.

Meskipun keuntungan dari hasil panen padinya tak sebanding dengan musim penghujan, para petani setempat tetap bersyukur. Pasalnya, saat musim kemarau resiko serangan hama dan penyakit, relatif berkurang.

Selain itu para petani setempat juga beruntung, karena kekeringan hanya terjadi di sebagian areal persawahan saja. (yos)

Berita Terkait

Kemarau Panjang, 59 Desa di Gresik Kering Kerontang

Panen Jagung Turun 40 Persen Akibat Kekeringan

Kemarau Panjang, Volume Air Waduk Pacal Menipis Tak Mampu Aliri Lahan Pertanian

Dampak Kemarau Produksi Susu Sapi Menurun
Berita Terpopuler
Baru Bebas Lantaran Progam Asimilasi, Residivis Dihajar Warga Usai Kepergok Cur...selanjutnya
Peristiwa  4 jam

Diduga Terobos Traffic Light, Beat Tabrak Vega
Peristiwa  5 jam

SMKN 4 Madiun Siapkan APD Pesanan Pemprov Jatim
Pendidikan  5 jam

Dampak Covid-19 Ratusan Napi Lapas Kediri Dibebaskan
Peristiwa  5 jam



Cuplikan Berita
Jalan Darmo dan Tunjungan Surabaya Ditutup 2 Minggu
Pojok Pitu

Berburu Manisnya Buah Srikaya Puthuk Tuban
Pojok Pitu

Banjir Rendam Tiga Titik Jalan Penghubung Antar Kecamatan
Jatim Awan

Zona Merah di Jatim Menjadi 23 Kabupaten Kota, Kasus Positif 187 Orang
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber