Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Metropolis 

Habis Masa Somasi, Nasib Seniman THR Belum Jelas
Jum'at, 14-06-2019 | 18:47 wib
Oleh : Ainul Khilmiah
Surabaya pojokpitu.com, Nasib seniman Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya hingga kini masih terkatung-katung, setelah diperintahkan untuk mengosongkan THR dalam rangka revitalisasi gedung. Upaya inipun sempat mengusik proses berkarya para seniman ludruk di THR. Meski sudah melewati batas waktu untuk mengosongkan gedung, namun problematika seniman THR, nyatanya masih belum usai.

Proses berkarya para seniman Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya, nampaknya harus terusik dengan adanya kebijakan revitalisasi yang akan dilakukan Pemerintah Kota Surabaya di kawasan THR.

Sebelumnya, seniman Sanggar Putra Mandira di THR Surabaya, dikejutkan dengan adanya pengambilan gamelan secara mendadak. Gamelan aset milik Pemkot Surabaya sebagai fasilitas pementasan rutin tersebut, ditarik kembali pada tanggal 10 Mei lalu.

Tak berhenti disitu, Kejaksaan Negeri Surabaya juga mengeluarkan somasi, agar para penghuni THR mengosongkan gedung tersebut sesuai tenggang waktu yang telah ditentukan, yakni hingga tanggal 10 Juni kemarin. Dengan alasan untuk mengembalikan fungsi lahan aset Pemkot Surabaya sebagai gedung kesenian. Pasalnya, ada sekitar 108 KK yang menetap di kawasan THR tersebut, baik dari kalangan pedagang maupun seniman.

Alhasil nasib para seniman ludruk di THR Surabaya hingga kini masih terkatung-katung. Jumat siang tadi sejumlah pedagang sudah berkemas dan memutuskan untuk angkat kaki dari THR Surabaya.

Berbeda dengan Sugeng Rogo Wiyono, salah satu seniman ludruk yang rutin menggelar pementasan di gedung Pringgodani THR ini, masih menetap sembari berkemas barang miliknya. Meski mengaku menerima dengan legowo jika harus diusir dari THR yang menjadi tempatnya melestarikan kesenian ludruk sejak puluhan tahun yang lalu. Namun pihaknya mengaku kecewa, lantaran kebijakan Pemerintah Kota Surabaya dinilai kurang mengayomi seniman dan kesenian tradisi di Kota Surabaya.

Meski telah melewati batas waktu pengosongan gedung, namun hingga saat ini pun sejumlah pedagang dan seniman masih tetap tinggal dan belum juga ada kejelasan lebih lanjut dari pemerintah kota dan Kejaksaan Negeri Surabaya terkait somasi tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya, Antiek Sugiharti menyatakan, relokasi para pedagang dan seniman tersebut dilakukan untuk mengembalikan fungsi lahan milik Pemerintah Kota Surabaya sebagai gedung kesenian, dan bukan sebagai tempat tinggal.

Selain itu, pihaknya juga merelokasi seniman sementara waktu untuk dilakukan revitalisasi di kawasan tersebut. "Revitalisasi inipun meliputi perbaikan gedung, sehingga kondisi gedung pertunjukan yang saat ini dinilai tidak layak, bisa lebih nyaman untuk berkarya bagi para seniman pasca revitalisasi," katanya.

"Bahwa pemerintah kota ingin melakukan revitalisasi bangunan yang ada di kawasan THR, sehingga untuk sementara pemkot sudah mengajukan bantuan hukum kepada Kejaksaan Negeri Surabaya, sehingga untuk sementara teman-teman bisa melakukan kegiatan keseniannya di Balai Pemuda Surabaya, sampai ada penyelesaian terhadap gedung yang baru," tambahnya.

Meski begitu, para seniman menilai panggung Balai Pemuda tidak cocok untuk digunakan sebagai panggung pertunjukan tradisional, lantaran sejumlah hal seperti tidak sesuai pakem, dan durasi waktu yang dibatasi.

Sementara itu, Luhur Kayungga, Sekjen Dewan Kesenian Surabaya menyatakan keputusan Pemerintah Kota Surabaya dalam merelokasi seniman dari THR, sebenarnya bukanlah keputusan yang tepat.

Pihaknya menyatakan keputusan merelokasi tanpa kejelasan tersebut, bisa memantik permasalahan yang mampu menggerus kesenian tradisi ludruk di Surabaya. "Seharusnya Pemerintah Kota Surabaya menghargai para seniman yang telah turut melestarikan kesenian ludruk di Surabaya, meskipun bukan orang Surabaya asli. Dedikasi para seniman yang tetap semangat menggelar pentas meskipun jumlah penonton tidak seberapa, seharusnya perlu diapresiasi," ungkapnya.

Pihaknya juga menambahkan, agar Pemerintah Kota Surabaya tidak hanya memperhatikan aset tanah dan bangunan saja, namun juga memperhatikan dan menjaga aset kesenian dan budaya. Khususnya kesenian ludruk yang sempat menjadi ikon dan mengangkat Kota Surabaya di masa kejayaannya, sebelum akhirnya tenggelam dan mulai ditinggalkan, lantaran tertutup dengan dibangunnya Hi-Tech Mall.(end)

Berita Terkait


Habis Masa Somasi, Nasib Seniman THR Belum Jelas


Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber