Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Rehat 

Pada saat ritual berlangsung suhu udara di sekitar kawasan bromo kisaran 5 derajat celsius.
Ditengah Suhu Dingin, Warga Suku Tengger Menggelar Yadnya Kasada
Kamis, 18-07-2019 | 10:56 wib
Oleh : Farid Fahlevi
Probolinggo pojokpitu.com, Warga suku tengger di Kabupaten Lumajang, Pasuruan, Malang dan Probolinggo pada Kamis (18/7) dini hari merayakan hari raya Yadnya Kasada. Atau hari saat warga wajib memberi sesembahan berupa hasil alam dan ternak kepada kawah gunung bromo.

Dengan berjalan kaki, warga dari empat kabupaten selalu rutin merayakan hari raya Yadnya Kasada. Sesaji-sesaji hasil bumi, yang biasa disebut ongkek, dikumpulkan di pura poten luhur. Berada tepat di bawah kawah gunung bromo, atau di kaldera.

Sesaji ini berupa sayur-mayur serta buah-buahan. Sebelum dikorbankan, sesaji-sesaji tersebut didoakan oleh masing-masing dukun pandita, dari masing-masing desa. Pada kesempatan ini juga dikukuhkan 7 dukun pandita, 4 dari Pasuruan, 3 dari Probolinggo.

Sebelum dikukuhkan, para calon dukun pandita ini harus diuji menghafal mantera di depan publik. Hasilnya mereka semua lolos menjadi dukun pandita. Saat ritual berlangsung suhu kisaran 5 sampai 8 derajat selsius. Ritual ini menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung.

Hari raya Yadnya Kasada, berawal dari cerita rakyat suku tengger, yang mengkisahkan Roro Anteng dan Joko Seger pasangan suami istri. Joko Seger merupakan anak manusia yang berwibawa dan berbudi luhur, sedangkan Roro Anteng merupakan titisan dewi. Pasangan suami istri tersebut lama tak mempunyai keturunan.

Akhirnya pasutri ini bertapa dan berjanji pada sang hyang widi, jika mempunyai anak banyak, maka anak yang terakhir akan dikorbankan ke kawah gunung bromo. Saat itulah anak terkahir Pasutri tersebut hilang di gunung bromo.

Menurut Ngati, Dukun Pandita Tengger Desa Sapi Kerep, sebagai bentuk kehormatan, warga tengger mengorbankan hasil bumi ke kawah gunung bromo pada bulan Kasada kalender suku tengger. Agar warga tentram, damai dan hasil pertanian bisa melimpah. 

Akhirnya tepat pukul 5 pagi, atau sebelum matahari terbit, sesaji-sesaji hasil bumi dibawa ke kawah gunung bromo, dan selanjutnya dilarung. (pul)

Berita Terkait


Ditengah Suhu Dingin, Warga Suku Tengger Menggelar Yadnya Kasada

Eksotika Bromo, Kesenian Nusantara Tampil di Lautan Pasir Mampu Pukau Wisatawan


Umat Hindu Tengger, Rayakan Hari Raya Yadnya Kasada

TNI Polri Perketat Pelaksanaan Yadnya Kasada

Jelang Hari Yadnya Kasada, Bromo Mulai Ramai Dikunjungi

Bromo Waspada, Acara Yadnya Kasada Tetap Digelar

Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber