Berita Terbaru :
Salah Satu Korban Tenggelam Ditemukan Meninggal Dunia
Jumlah Kasus Positif Virus Corona Covid-19 Terus Meningkat
Batasi Penyebaran Covid-19, Perbatasan Jalan Pondok Candra Ditutup
Penumpang Tewas Mendadak di Dalam Bus, Petugas Evakuasi Sesuai SOP Corona
Dua Pasien PDP Covid 19 di Kabupaten Sidoarjo Meninggal Dunia
Sembuh dari Virus Corona, Andrea Dian: Puji Tuhan
Masya Allah, Karangan Bunga Daeng Beta Seratusan. Iki Tanda Khofifah Wong Gedhe
Lawan Covid-19, Komunitas Exodus Bagikan APD ke Puskesmas dan Ojol
Lawan Covid 19, Warga Perumahan di Mojokerto Bersama Berjemur Badan
Dampak Corona, Travel Umroh Dan Haji Alami Penurunan Omzet 75 Persen
Menyantap Gurihnya Lontong Pedal Khas Bojonegoro
Antisipasi Penyebaran Virus Covid 19, Muspika dan Pemdes Bagi Masker
Dirumahkan, Karyawan Homestay Produksi Masker
Selangkah Lagi Pasangan OK Kantongi Rekom Partai Golkar
Akibat Masker Mulai Langka, Warga Binaan Rutan Trenggalek Produksi Masker Sendiri
   

Tradisi Perang Nasi Untu Rayakan Panen Raya
Mataraman  Sabtu, 10-08-2019 | 13:00 wib
Reporter : Herpin Pranoto
Ngawi pojokpitu.com, Ratusan warga salah satu desa di Kabupaten Ngawi, menggelar tradisi perang nasi, untuk merayakan panen raya padi. Mereka saling melempar nasi bungkus, setelah melaksanakan kenduri di punden desanya.

Tradisi perang nasi digelar di punden desa Pelang Lor Kecamatan Kedunggalar Kabupaten Ngawi. Setelah menggelar kenduri, ratusan warga saling berebut nasi bungkus.

Mereka kemudian saling melempar nasi bungkus, untuk merayakan kegembiraan. Tradisi perang nasi, menarik banyak pengunjung , dari masyarakat sekitar maupun dari luar daerah.

Hariana, Kepala Desa Pelang Lor, menuturkan, tradisi perang nasi merupakan bagian dari tradisi perayaan panen raya dan bersih desa. Aktivitas ini, bentuk rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, atas keberadaan mata air di desanya.

"Berbeda dari zaman nenek moyang, para pemuda kemudian menambahkan kegiatan, saling lempar nasi bungkus untuk meramaikan," kata Hariana.

Sebelum diperebutkan dan digunakan saling lempar, warga dan pengunjung,  diperbolehkan membawa pulang dan makan sepuasnya. Nasi bungkus tersebut, merupakan sumbangan dari warga yang dibawa dari rumahnya.

Setelah perang nasi selesai, warga kemudian mengumpulkan nasi yang berceceran untuk digunakan sebagai pakan ternak. Sisa makanan yang bercampur tanah, dianggap warga merupakan sedekah kepada  binatang yang ada di kawasan hutan. (yos)

Berita Terkait

Tradisi Perang Nasi Untu Rayakan Panen Raya
Berita Terpopuler
Lawan Covid-19, Komunitas Exodus Bagikan APD ke Puskesmas dan Ojol
Metropolis  8 jam

Masya Allah, Karangan Bunga Daeng Beta Seratusan. Iki Tanda Khofifah Wong Gedhe
Opini  6 jam

Dua Pasien PDP Covid 19 di Kabupaten Sidoarjo Meninggal Dunia
Metropolis  1 jam

Keterlaluan, Bisnis Ganja di Tengah Wabah Corona
Hukum  18 jam



Cuplikan Berita
Jalan Darmo dan Tunjungan Surabaya Ditutup 2 Minggu
Pojok Pitu

Berburu Manisnya Buah Srikaya Puthuk Tuban
Pojok Pitu

Relawan Serahkan APD di RSUD Kanjuruhan Kepanjen
Jatim Awan

Kabupaten Nganjuk Menjadi Salah Satu Daerah Zona Merah di Jatim
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber