Berita Terbaru :
Razia Masker, Petugas Temukan Pengendara Tak Memakai Masker
Jadwal Baru MotoGP 2020 Diharapkan Rampung Sebelum Akhir Juli
Dengan Protokol Ketat Santri Ponpes Zainal Hasan Genggong Kembali ke Pesantren
Karaoke Nekat Beroperasi Di Tengah Pendemi Covid-19, 7 Orang Diamankan
Belajar di Rumah Hingga Batas Waktu Tak Tertentu
Penjual Perlengkapan dan Oleh-Oleh Haji Terancam Rugi Puluhan Juta
TNI Polri Salurkan Puluhan Ton Beras Terhadap Warga yang Luput Bantuan Pemerintah
Sedikitnya 3 Wisata Kota Batu Akan Dibuka
   

Warga Nganjuk Gelar Jamasan Pusaka di Bulan Suro
Rehat  Minggu, 08-09-2019 | 09:16 wib
Reporter : Achmad Syarwani
Pusaka ini merupakan peninggalan tokoh agama dan cikal bakal berdirinya Desa Ngliman, Nganjuk. Foto Achmad Syarwani
Nganjuk pojokpitu.com, Warga Nganjuk menggelar Jamasan Pusaka atau memandikan pusaka. Tradisi turun temurun ini, terdapat 6 pusaka yang dijamas atau dimandikan.

Enam pusaka peninggalan Ki Ageng Ngaliman, merupakan tokoh penyebar agama Islam di wilayah Ngliman Sawahan, sekaligus cikal bakal berdirinya Desa Ngliman.

Kirab ini dimulai dari Makam Ki Ageng Ngliman, berjalan menggendong 6 pusaka peninggalan Ki Ageng Ngaliman yang terbukus kain. Untuk dijamas oleh tokoh adat di Balai Desa Ngliman. Peserta kirab mengenakan pakaian adat jawa, lengkap dengan keris, serta membakar dupa.

Keenam pusaka yang dijamas atau dimandikan berupa keris yakni Kyai Kembar, dan berupa pewayangan yaitu Mbah Bondan, Mbah Joko Truno, Mbah Bethik, Raden Panji, dan Nyai Dukun. Masing-masing dimandikan oleh tokoh adat setempat menggunakan air kembang.

Tradisi ini digelar setiap tahun pada bulan Suro dengan maksud meneruskan tradisi turun temurun. Selain itu, makna dari Jamas Pusaka ini adalah simbol manusia harus membersihkan diri, karena terdapat kekurangan dan kesalahan yang harus dibersihkan. Mereka yang datang ke tempat Jamasan Pusaka ini berharap mendapatkan berkah. 

Setelah jamasan pusaka, puluhan warga mendekat berdasakan pada tempat jamasan untuk berebut air sisa jamasan. Dengan harapan sisa air jamasan tersebut sebagai perantara dari yang maha kuasa untuk menjauhkan dari segala macam marabaya dan memberikan keberkahan. Warga dapat menggunakan sisa air jamasan tersebut untuk tanaman, tempat tinggal dan sebagainya.

Sementara itu, diharapkan tradisi Jamas Pusaka ini tetap lestari dengan mengajarkan kepada anak-anak muda untuk menjunjung tinggi adat yang diajarkan turun menurun. Sehingga, budaya tersebut tetap dilaksanakan dan diyakini terdapat nilai-nilai yang baik, warisan budaya jawa pada umumnya, dan masyarkat Ngliman pada khusunya, sehingga ini tidak akan punah.




Berita Terkait

Lestarikan Benda Pusaka Melalui Jamasan Massal

Prosesi Jamasan Keris Keraton Sumenep

Warga Nganjuk Gelar Jamasan Pusaka di Bulan Suro

Ritual Jamasan Gong Pradah Ricuh , Warga Pembawa Gong Saling Dorong
Berita Terpopuler
Sedikitnya 3 Wisata Kota Batu Akan Dibuka
Mlaku - Mlaku  8 jam

Belajar di Rumah Hingga Batas Waktu Tak Tertentu
Pendidikan  5 jam

Karaoke Nekat Beroperasi Di Tengah Pendemi Covid-19, 7 Orang Diamankan
Peristiwa  3 jam

TNI Polri Salurkan Puluhan Ton Beras Terhadap Warga yang Luput Bantuan Pemerinta...selanjutnya
Peristiwa  7 jam



Cuplikan Berita
Dua Balita Warga Ngagel Reaktif Positif Covid 19
Pojok Pitu

Satu Keluarga Tersapu Ombak, Satu Orang Tewas, Satu Lagi Hilang
Pojok Pitu

Ini Syarat Kuota Khusus Untuk Putra-Putri Tenaga Kesehatan Covid 19
Jatim Awan

Klaster Gowa Menambah Jumlah Kasus Positif Covid-19 di Bondowoso
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber