Berita Terbaru :
Perayaan Hari Jadi Kota Reog ke-524 Dikemas Sederhana
Empat Pegawai Positif Korona, Puskesmas Wringinanom Ponorogo Ditutup
Gaji 13 ASN Segera Cair
Pemkab Ngawi Bakal Tertibkan Bangunan yang Melebihi Batas
Daftar Sebagai Pemilih Tetap di Kediri, Mas Dhito Berharap Penyelenggara Optimal dan Adil
Begini Pembelajaran Tatap Muka SMA di Era Pandemi
Berduaan di Dalam Kamar Kos, Satu Pasangan Bukan Suami Isteri Terjaring Satpol PP
Diduga Dukun Sihir, Warga Kepulauan Kangayan Dibunuh Diatas Kapal Motor
Satu Nakes Puskesmas Maospati Positif Covid-19
Tim Identifikasi Polres, Kumpulkan Beberapa Barang Bukti
Kota Malang Kembali Catat Rekor Penambahan Pasien Positif Covid-19
Diserang Perguruan Pencak Silat, Warga Memilih Bersembuyi
Viral, Warga Rebut Jenazah Covid
Ratusan Orang Dari Perguruan Pencak Silat, Kembali Serang Warga
Razia Masker, Polisi Amankan Lima KTP dan Hukum Push Up
   

Sisi Perjuangan Kehidupan Penempa Besi
Sosok  Jum'at, 20-09-2019 | 00:15 wib
Reporter : Edwin Adji
Pacitan pojokpitu.com, Berpeluh keringat panas di ruangan yang penuh percikan bara api, menjadi kegiatan sehari-hari Harto Sugito, yang berprofesi sebagai penempa besi.

Meski di zaman modern seperti saat ini, namun dirinya masih tetap eksis dalam menjalankan usahanya sebagai pandai besi, dengan peralatan manual yang sudah dirintisnya  sejak puluhan tahun silam.

Dengan berdindingkan papan kayu yang sudah usang inilah tempat bekerja Harto Sugito, warga Dusun Bedayu,Desa Bolosingo Kecamatan Kota Pacitan, yang masih menekuni usaha pandai besi sejak puluhan tahun silam.

Dengan menggunakan peralatan manual, pria berumur 67 tahun tersebut sampai saat ini masih terkenal dengan kemahirannya membuat peralatan tajam. Mulai dari pisau, sabit dan golok dengan kualitas yang memuaskan.

Bagi Sugito menempa bukan hanya sekedar memukul besi panas semata. Lebih dari itu, selain sebagai mata pencaharian ekonomi dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, usaha tersebut merupakan usaha turun-temurun dari nenek moyangnya  yang akan terus di jaga kelestariannya.

Berprofesi sebagai tukang pandai besi, Sugito harus tau betul akan kualitas bahan besi yang akan diolahnya, dan inilah yang membedakan antara dirinya dengan penempa lain yang biasanya hanya menggunakan bahan besi dengan kualitas yang terkesan asal.

Dengan menggunakan peralatan manual seperti palu, sumpit dan pacal, pria 3 anak ini terus  melayani pesanan dari konsumennya. Potongan besi dari bagian mobil tersebut di panaskan di atas bara api sampai berwarna merah.

"Kemudian besi akan dipukul menggunakan palu sesuai dengan bentuk peralatan yang akan dibuatnya," kata Harto Sugito.

Tak sampai disitu saja, besi yang kini sudah terbentuk kemudian dilakukan penyepuhan dengan menggunakan air, sebelum akhirnya peralatan tersebut di rapikan dengan mesin gerinda.

Untuk masalah penjualan, biasanya Sugito membandrol satu buah pisau dengan harga Rp 35 ribu, sementara sabit dipatok harga Rp 50 sampai dengan Rp 100 ribu. Sedangkan golok berkisar diharga Rp 100 ribu sampai dengan Rp 250 ribu.

Bahkan saking larisnya, penjualannya pun tak hanya meliputi wilayah Kabupaten Pacitan saja. Namun banyak juga yang memesan dari wilayah Medan, Sumatera dan Kalimantan. (yos)

Berita Terkait

Sisi Perjuangan Kehidupan Penempa Besi
Berita Terpopuler
Ratusan Orang Dari Perguruan Pencak Silat, Kembali Serang Warga
Peristiwa  6 jam

Jokowi Teken PP, Pegawai KPK Resmi Jadi ASN
Politik  13 jam

Pemkab Sidoarjo Bagi 15 Ribu Masker Gratis Untuk Penanganan Covid 19
Metropolis  14 jam

Dipicu Bendera, Warga dan Pesilat Terlibat Bentrok
Peristiwa  7 jam



Cuplikan Berita
Ratusan Ibu Hamil Swab Massal di Gelora Pancasila
Pojok Pitu

Begini Pengakuan Bupati Menanggapi Pemakzulan DPRD Jember
Pojok Pitu

Karyawan Toko Tipu Korban dan Gelapkan Ribuan Lpg
Jatim Awan

Sebanyak 65 Guru SMP di Surabaya Reaktif
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber