Berita Terbaru :
Enam Warga Korban Prona Lapor Polisi Nganjuk
Jumlah Pasien Covid 19 Yang Sembuh di Jawa Timur Makin Banyak
Tiga Karyawan PDAM Diduga Terpapar Covid 19
Warga Lumajang Masih Antri Pancarian Bantuan
Pengunjung Dibuat Tidak Saling Berpapasan di Dalam Mall
Jawa Timur Terjunkan Tim Covid 19 Hunter ke Sejumlah Daerah
Begini kata Kejaksaan Ponorogo Terkait Dugaan Korupsi PDAM
Lahir di Masa Pandemi Kelahiran Bayi Singa Putih Membawa Warna Tersendiri
Pandemi Covid-19, Penghobi Aquascape Bojonegoro Meningkat
6 Ribu Lebih Alat Rapid Test Sudah Digunakan Tracing
Mulai Minggu Depan Pelayanan Uji Kir Kembali Dibuka
Pemuda Ini Setubuhi 8 Anak Dibawah Umur, 1 Korban Dipaksa Aborsi
Maling di RSUD Sayidiman Diringkus Polisi
Polwan Polres Lamongan Sosialisasikan New Normal di Beberapa Warkop
Kekurangan Anggaran Pelaksanaan Pilkada Bisa Dicover Dari BTT
   

Batik Semakin Dikenal Luas, Perajin Kian Terhempas
Life Style  Kamis, 03-10-2019 | 06:14 wib
Reporter : Atiqoh Hasan
Surabaya pojokpitu.com, Satu dekade batik dinobatkan menjadi warisan budaya dunia. Namun, dalam perjalanannya, tak mudah bagi batik untuk terus berkembang. Terlebih, tidak ada peran pemerintah dalam mengerem penjualan batik printing, yang merugikan perajin.

Pakar batik Indonesia, Karsam, mengakui, dalam perjalanan batik banyak hambatan yang dihadapi. Meski di satu sisi, pengakuan UNESCO atas batik sebagai warisan budaya dunia, melambungkan nama Indonesia di kancah internasional. Sayangnya, tak sedikit, yang justru berdampak negatif. Sebab justru peredaran batik printing mematikan keberadaan perajin batik.

"Batik kini tak hanya ada di Indonesia. Tetapi juga di negara maju seperti Amerika," kata Karsam.

Pria yang menjadi doktor batik pertama Indonesia ini pun mengaku  peran pemerintah sangat minim dalam hal ini. Pemerintah hanya fokus pada perputaran ekonomi, tanpa memperdulikan asas membatik itu sendiri.

Menurut Karsam, salah satu upaya yang bisa dilakukan pemerintah dalam mengendalikan peredaran batik adalah dengan memberikan batik mark. Yaitu penanda pada kain batik berdasarkan cara pembuatannya. "Seperti warna kuning emas untuk batik tulis, warna putih untuk batik cap, dan warna silver untuk gabungan batik tulis dan cap. Selain itu juga perlu adanya upaya pengendalian agar tak hanya batik yang dikenal masyarakat dunia, tetapi perajin batik pun tetap lestari," paparnya.(end)

Berita Terkait

Imbas Corona, Produksi Batik di Pamekasan Turun Drastis

Di Tengah Pandemi Covid-19, Perajin Batik Masih Buka Pemesanan Secara Online

Memberikan Sosialisasi Tentang Covid 19, Kelompok Disabilitas Membuat Batik Motif Corona

Sempat Berhenti, Perajin Batik Beralih Membuat Masker
Berita Terpopuler
Kekurangan Anggaran Pelaksanaan Pilkada Bisa Dicover Dari BTT
Pilkada  11 jam

Polwan Polres Lamongan Sosialisasikan New Normal di Beberapa Warkop
Peristiwa  10 jam

Pemuda Ini Setubuhi 8 Anak Dibawah Umur, 1 Korban Dipaksa Aborsi
Peristiwa  9 jam

Maling di RSUD Sayidiman Diringkus Polisi
Peristiwa  9 jam



Cuplikan Berita
Dua Balita Warga Ngagel Reaktif Positif Covid 19
Pojok Pitu

Satu Keluarga Tersapu Ombak, Satu Orang Tewas, Satu Lagi Hilang
Pojok Pitu

Ini Syarat Kuota Khusus Untuk Putra-Putri Tenaga Kesehatan Covid 19
Jatim Awan

Klaster Gowa Menambah Jumlah Kasus Positif Covid-19 di Bondowoso
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber