Berita Terbaru :
Rogoh Setengah Miliar Rupiah Untuk Poles Hutan Kota
Padat Karya Mangrove bagi Pemulihan Ekonomi Nasional
Ratusan Warga Berebut Air Bersih
48 Ruas Jalan Desa Diambil Alih Pemkab Magetan
Himpitan Ekonomi, Kasus Perceraian di Kabupaten Madiun Capai 1.635
Operasi Yustisi, Pelanggar Protokol Kesehatan Distempel
Polres Malang Luncurkan Kendaraan SKCK Keliling
LSM Yakini RSUD Tak Melakukan Mal Administrasi
Hasil Operasi, 657 Warga Tidak Bermasker Terjaring Satgas Covid 19
   

Penyerangan Wiranto Simbol Kebangkitan Kelompok Radikal
Politik  Sabtu, 12-10-2019 | 20:11 wib
Reporter : Ainul Khilmiah
Pengamat politik Uinsa, Abdul Halim
Surabaya pojokpitu.com, Penyerangan kepada Menko Polhukam Wiranto, mendapat sorotan dari pengamat politik di Surabaya. Penyerangan tersebut, merupakan simbol kebangkitan atau perlawanan kelompok radikal terhadap pemerintah.

Pengamat politik Uinsa, Abdul Halim menyatakan, aksi penyerangan terhadap Menko Polhukam Wiranto di Pandeglang Banten juga ingin menunjukan pada dunia bahwa mereka masih eksis. Serta menyampaikan titik kelemahan Pemerintah Indonesia.

"Pesan politik yang ingin berusaha disampaikan atau dibangun oleh pelaku, yakni mengajak kepada jaringan yang memiliki ideologi serupa, untuk bergerak bersama, menumbangkan pemerintah yang sah," kata Abdul Halim.

Terlebih lagi di momen jelang pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih Indonesia 20 Oktober 2019 nanti.

"Ini strategis, untuk menyampaikan pesan pesan  kepada dunia, bahwa negara kita dianggap lemah, buktinya Menkopolhukam aja bisa diserang. Biar dianggap kelompok ini tetap eksis, menunjukkan jati diri mereka. Secara tidak langsung mengajak jaringan mereka untuk bergerak dalam rangka mendeligitimasi pemerintahan yang sah dan gerakan mereka eksis di semua level," tambah Abdul Halim

Pengamat politik yang juga merupakan dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Uinsa juga memaparkan, di tingkat institusi pendidikan sendiri sangat rawan disusupi gerakan radikal yang berbasis agama. Pelaku mulai menanggalkan ciri khas yang serba tertutup, sehingga nampak seperti masyarakat pada umumnya.

Untuk menghindari hal tersebut, pihak kampus rutin melakukan pemeriksaan paham-paham radikal kepada mahasiswa maupun tenaga pendidiknya. Hasilnya, dalam dua tahun terakhir, Uinsa telah menonaktifkan 3 tenaga pendidik yang terdeteksi masuk dalam gerakan radikal. (pul)

Berita Terkait

Penyerangan Wiranto Simbol Kebangkitan Kelompok Radikal

Begini Cerita Mira tentang Sosok Abu Lara si Penusuk Wiranto

Polisi Sebut Pelaku Penyerangan Wiranto Terpapar ISIS

Salah Satu Pelaku Penyerangan Wiranto Seorang Perempuan
Berita Terpopuler
Padat Karya Mangrove bagi Pemulihan Ekonomi Nasional
Peristiwa  1 jam

Hasil Operasi, 657 Warga Tidak Bermasker Terjaring Satgas Covid 19
Peristiwa  8 jam

LSM Yakini RSUD Tak Melakukan Mal Administrasi
Peristiwa  7 jam

Polres Malang Luncurkan Kendaraan SKCK Keliling
Malang Raya  6 jam



Cuplikan Berita
Janji Datangkan Samurai 500 M, Korban Justru Tertipu Rp 18 M
Pojok Pitu

Diduga Akibat Puntung Rokok Dibuang Sembarangan, Savana Kawah Wurung Terbakar
Pojok Pitu

Hingga Malam Hari Bukit Bentar Terbakar, Petugas Masih Lakukan Pemadaman Manual
Jatim Awan

Kebakaran Gudang Margomulyo, Tiga Isi Gudang Ludes Dilalap Api
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber