Berita Terbaru :
Tambang Batu Kapur Runtuh, Alat Tambang Rusak Tertimbun
Optimalkan Laboratorium, Surabaya Tak Perlu Mobil Tes PCR
Kasus Covid 19 di Jatim Capai 4.409 Orang
PMI Kirim Bantuan Ventilator ke RS Muhammadiyah Lumajang
Manfaatkan Mobile PCR, Ratusan Petugas Medis dan Masyarakat Tulungagung Diuji Swab
Doni Monardo : Mobil PCR Untuk Provinsi Jatim, Namun Khusus Untuk Kota Surabaya
Memang, Test PCR Lebih Akurat Dibandingkan Rapid Test
Pemprov Bantah Bantuan Mobil PCR Dari BNPB Khusus Kota Surabaya
Penyakit GERD Sering Muncul Setelah Lebaran, Apa Penyebabnya?
Penjual Ketupat Matang Tetap Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19
Golkar Ingatkan Walikota Surabaya Jangan Cari Sensasi di Tengah Pandemi Covid-19
Kapolres Cek Gudang Beras Bulog Madusari
Pandemi Covid 19, Polisi Binmas Bagi Buku Gratis Ke Siswa Pedesaan
Suket Tak Lengkap, Pengguna Jasa Penyebrangan Balik Kanan
Arema Usulkan Liga 1 Berlanjut di Era New Normal
   

Kesenian Tiban, Tradisi Masyarakat Tulungagung Saat Kemarau Panjang
Rehat  Selasa, 15-10-2019 | 20:21 wib
Reporter : Agus Bondan
Berita Video : Kesenian Tiban, Tradisi Masyarakat Tulungagung Saat Kemarau Panjang
Tulungagung pojokpitu.com, Melestarikan tradisi nenek moyang, puluhan warga di Tulungagung menggelar kesenian Tiban. Kesenian ekstrem yang menampilkan dua orang saling beradu cambuk ini, biasa digelar saat musim kemarau berkepanjangan. Dalam kebudayaan masyarakat dahulu, Tiban merupakan seni ritual meminta hujan, agar daerah mereka segera bebas dari kekeringan.

Masyarakat Jawa dikenal memiliki beragam tradisi budaya yang unik. Salah satunya adalah seni tradisi Tiban. Kesenian adu nyali dan ketangkasan beradu cambuk ini, banyak berkembang di wilayah selatan Jawa Timur.

Meski tidak lagi dianggap sebagai ritual meminta hujan, namun kesenian tiban saat ini tetap digemari masyarakat. Seperti yang dilakukan puluhan warga Desa Kates, Kecamatan Kauman, Tulungagung ini. Di musim kemarau saat ini, mereka menggelar seni Tiban di lapangan desa setempat.

Antusias masyarakat terhadap seni Tiban cukup tinggi, terbukti puluhan warga mengantri untuk berlaga. Tidak hanya diikuti oleh warga desa setempat, tidak sedikit pula peserta yang berasal dari luar desa.

Menurut salah seorang panitia penyelenggara, Goni Legowo, kesenian Tiban sudah mengakar di desa mereka. Hampir setiap musim kemarau, warga seringkali menggelar seni tiban.

"Ini dilakukan untuk mengenalkan seni tiban pada generasi muda. Diharapkan dengan sering digelarnya seni tiban, kesenian warisan leluhur yang sarat makna ini tetap lestari," kata Goni Legowo.

Dalam Tiban, cambuk yang digunakan terbuat dari lidi aren yang disebut ujung. Saat bermain peserta harus bertelanjang dada. Masing-masing peserta mendapat kesempatan menyabet lawan sebanyak tiga kali. Dengan aturan, sabetan tidak boleh mengarah ke kepala dan bawah pusar.

Tidak ada istilah menang atau kalah dalam Tiban. Meski terlihat saling melukai saat berlaga, namun tidak ada dendam selepas permainan.(end/vd:yan)

Berita Terkait

Penataan Ulang Pasar Tradisional Cegah Penularan Covid-19

Tradisi Ronda Sahur Terus Dilakukan Warga Nganjuk

Melestarikan Permainan Tradisional Meriam Bambu di Bulan Ramadhan

Sekelompok Pemuda Trenggalek Lestarikan Permainan Tradisional Meriam Bambu
Berita Terpopuler
Golkar Ingatkan Walikota Surabaya Jangan Cari Sensasi di Tengah Pandemi Covid-19...selanjutnya
Metropolis  5 jam

19 Kampung Tangguh Covid-19 Diresmikan Bertahap di Tulungagung
Peristiwa  14 jam

Keberadaan Kandang Dinilai Ganggu Wisata Monumen Kresek
Peristiwa  12 jam

Pemprov Bantah Bantuan Mobil PCR Dari BNPB Khusus Kota Surabaya
Metropolis  3 jam



Cuplikan Berita
Gelombang Tinggi Terjang Pantai Selatan Lumajang
Pojok Pitu

Puluhan Rumah Warga Pantai Sine Terendam Banjir Rob
Pojok Pitu

Banjir Terjang 5 Kecamatan di Tengah Pandemi Covid-19
Jatim Awan

Dua Truk Pasir Terseret Lahar Dingin Semeru
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber