Berita Terbaru :
Hasil Rapidtest 815 Karyawan Pabrik Rokok Madiun Non Reaktif
Bupati Kunjungi 8 Orang Yang Dikarantina Karena Mudik
Ratusan Pedagang di 3 Pasar Bojonegoro Ikut Rapid Test
Tambang Batu Kapur Runtuh, Alat Tambang Rusak Tertimbun
Optimalkan Laboratorium, Surabaya Tak Perlu Mobil Tes PCR
Kasus Covid 19 di Jatim Capai 4.409 Orang
PMI Kirim Bantuan Ventilator ke RS Muhammadiyah Lumajang
Manfaatkan Mobile PCR, Ratusan Petugas Medis dan Masyarakat Tulungagung Diuji Swab
Doni Monardo : Mobil PCR Untuk Provinsi Jatim, Namun Khusus Untuk Kota Surabaya
Memang, Test PCR Lebih Akurat Dibandingkan Rapid Test
Pemprov Bantah Bantuan Mobil PCR Dari BNPB Khusus Kota Surabaya
Penyakit GERD Sering Muncul Setelah Lebaran, Apa Penyebabnya?
Penjual Ketupat Matang Tetap Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19
Golkar Ingatkan Walikota Surabaya Jangan Cari Sensasi di Tengah Pandemi Covid-19
Kapolres Cek Gudang Beras Bulog Madusari
   

Tak Kebagian Air Sarangan, Tanaman Sayuran Mati
Mataraman  Jum'at, 18-10-2019 | 02:10 wib
Reporter : M. Ramzi
Magetan pojokpitu.com, Meskipun pintu air Telaga Sarangan Magetan sudah dibuka, akan tetapi tidak semua petani bisa menikmatinya. Para petani di Desa Buluharjo, masih belum mendapatkan air sehingga tanaman mereka layu dan mati atau gagal panen.

Seperti yang dialami salah satu petani sayur desa setempat, Supanji. Ia mengaku, sudah satu bulan lebih tanaman kubis miliknya tidak bisa diairi. Meskipun pintu air telaga sarangan sudah dibuka, akan tetapi aliran air itu tidak sampai ke sawah miliknya.

Akibatnya tanaman kubis yang hampir panen ini layu, bahkan sebagian sudah mengering. Baru tahun ini pengalaman pahit ini ia alami. Karena tahun-tahun sebelumnya air dari sarangan masih mencukupi.

"Saya hanya bisa pasrah karena tidak ada cara lagi mendapatkan air. Belum lagi hama ulat yang menyerang," kata Supanji.

Sebelumnya Selasa siang kemarin, pintu air telaga sarangan dibuka setelah mendapat protes dari petani di kecamatan plaosan magetan.

Namun BBWS Bengawan Solo, hanya membuka pintu air selama tujuh hari. Itupun hanya 300 liter perdetik, untuk malam hari dan 200 liter pedetik untuk malam hari. (yos)

Berita Terkait

Memasuki Musim Pancaroba, 66 Desa di Trenggalek Masih Alami Kekeringan

Kemarau Berkelanjutan, Sumber PDAM di Pacitan Mengering

Warga Kabupaten Jember Kesulitan Air Bersih

Petani Memecah Batu di Sawah yang Masih Kering
Berita Terpopuler
Golkar Ingatkan Walikota Surabaya Jangan Cari Sensasi di Tengah Pandemi Covid-19...selanjutnya
Metropolis  6 jam

19 Kampung Tangguh Covid-19 Diresmikan Bertahap di Tulungagung
Peristiwa  15 jam

Keberadaan Kandang Dinilai Ganggu Wisata Monumen Kresek
Peristiwa  13 jam

Doni Monardo : Mobil PCR Untuk Provinsi Jatim, Namun Khusus Untuk Kota Surabaya
Politik  3 jam



Cuplikan Berita
Gelombang Tinggi Terjang Pantai Selatan Lumajang
Pojok Pitu

Puluhan Rumah Warga Pantai Sine Terendam Banjir Rob
Pojok Pitu

Banjir Terjang 5 Kecamatan di Tengah Pandemi Covid-19
Jatim Awan

Dua Truk Pasir Terseret Lahar Dingin Semeru
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber