Berita Terbaru :
Forkopimda Wacanakan PSBB Hingga Lockdown Antar Kecamatan
Interplasi Dilakukan Lantaran Rekrutmen Pimpinan Bank Jatim Tak Kunjung Selesai
Dua Warga Blitar Tewas Usai Pesta Miras
Dilaporkan Pencemaran Nama Baik di Polrestabes Surabaya, Uci Flowdea Datangi Polda Jatim
Angka Positif Covid 19 Jatim Tembus 14 Ribu Orang
Evakuasi Jasad Pendaki Lawu, Lewat Jawa Tengah
Warga Suku Tengger Gelar Perayaan Hari Raya Yadnya Kasada
Ngopi Sambil Keliling Kota Dengan Bus Coffe
Satu Desa di Ponorogo Di-Lockdown, Puluhan Warga Diisolasi
Awali Musim Panen Padi, Tradisi Metil Digelar Warga Munggut Madiun
KPU Ponorogo Dapat Gelontoran Dana Rp 5,9 Milyar Untuk APD Covid 19
Pandemi Covid-19, Penghoby Aquascape Meningkat
Spesialis Pencuri HP dan Penadah Diringkus Polisi Magetan
Polisi Tangkap Pencuri Spesialis Kotak Amal Masjid Antar Kota
Wastafel Mobile Polres Bangkalan Siap Layani Masyarakat
   

Polemik Salam Beda Agama, Wamenag Menyerahkan Pada Ulama dan MUI Pusat
Peristiwa  Selasa, 12-11-2019 | 18:06 wib
Reporter : Saiful Mualimin
Jombang pojokpitu.com, Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, menyerahkan polemik himbauan umat islam dan para pemangku kebijakan untuk menghindari pengucapan salam dari agama lain ke ulama dan MUI pusat. Tokoh agama dan komisi fatwa diminta melakukan kajian dan menelaah untuk menghasilkan pemahaman yang sama.

Pernyataan ini disampaikan oleh Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Saadi, saat menghadiri  acara silaturrahim dengan alim ulama di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. 

Wamenag hadir dalam pertemuan menggantikan Menteri Agama yang batal  datang karena ada kegiatan rapat di Jakarta. Menurut Zainut Tauhid Saadi, para tokoh agama harus memahami konteks dari imbauan MUI Jawa Timur tersebut. Sehingga tidak perlu mempermasalahkan. Para tokoh agama diharapkan bisa berkumpul untuk membahas persoalan tersebut sehingga tidak terjadi  kesalahfahaman.

"Selain meminta tokoh masyarakat  untuk melakukan kajian MUI pusat, dalam hal ini komisi fatwa saat ini juga sedang melakukan kajian dan menelaahnya. Pasalnya larangan yang disampaikan oleh MUI Jatim ini sifatnya himbauan bukan fatwa," kata Zainut Tauhid.

Sementara KH Salahudin Wahid, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, menyerahkan hal ini pada masing masing  tokoh dan pejabat yang bersangkutan.  
"Mereka boleh mengikuti maupun   tidak mengikuti himbauan yang dikeluarkan MUI Jatim, yang terpenting himbuan MUI ini tidak diperdebatkan yang bisa  pemicu perpecahan," kata Gus Sholah.

Sebelumnya Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur Mengimbau umat islam dan para pemangku kebijakan atau pejabat untuk menghindari pengucapan salam dari agama lain saat membuka acara resmi.  

Imbauan tersebut termaktub dalam surat edaran bernomor 110/MUI/JTM/2019 yang ditandatangani oleh Ketua MUI Jatim KH. Abdusshomad Buchori dan Sekretaris Umum Ainul Yaqin. (yos)



Berita Terkait

Polemik Salam Beda Agama, Wamenag Menyerahkan Pada Ulama dan MUI Pusat
Berita Terpopuler
Musim Panen Harga Bawang Merah Anjlok Drastis
Ekonomi Dan Bisnis  12 jam

Satu Desa di Ponorogo Di-Lockdown, Puluhan Warga Diisolasi
Peristiwa  4 jam

Spesialis Pencuri HP dan Penadah Diringkus Polisi Magetan
Peristiwa  8 jam

Para Bakal Calon Berebut Suara Warga NU di Pilkada Sumenep
Pilkada  11 jam



Cuplikan Berita
Puluhan Peserta UTBK Rapid Test di Lokasi Ujian
Pojok Pitu

Gempar, Bayi Perempuan Dibuang di Teras Rumah Warga
Pojok Pitu

Diduga Bawa BBM, Sebuah Mobil Terbakar di Dekat SPBU Keting
Jatim Awan

Diserang Tikus, Petani Ponorogo Resah
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber