Berita Terbaru :
Masa Transisi New Normal Berlangsung Selama 14 Hari
Jawa Timur Sentuh Angka 4583 Orang Terkonfirmasi Positif Covid 19
Mobil Combat Laboratorium Sudah di Surabaya dan Akan Ditambah 1 Unit
HUT Surabaya, Masyarakat Berziarah Ke Makam Bung Tomo dan Dokter Soetomo
Surabaya Zona Merah, BIN Perpanjang Waktu Rapid Test Massal
Miliki Jiwa Sosial Tinggi, RT/RW di Surabaya Bentuk GERMAS Menangkan Machfud Arifin
Dengan Nasi Tumpeng, Walikota Surabaya Peringati Hari Jadi Surabaya Ke 722
Seorang Nenek Ditemukan Tewas Membusuk Di Dalam Rumah
Satu Keluarga Tersapu Ombak, Satu Orang Tewas, Satu Lagi Hilang
Antisipasi Covid - 19 Pasca Libur Lebaran, Ratusan Karyawan Pabrik Dirapid Test
Kuliner Khas Madura Yang Hanya Dibuat di Hari Ke-7 Setelah Lebaran
Pemudik Positif Covid-19, Keluarga dan Warga Rapid Test
Kasus Positif Covid-19 di Tulungagung Bertambah 7 Orang, 2 Di Antaranya Ibu Yang Melahirkan
Hujan Deras Mengguyur Kecamatan Sumawe, Desa Tambakrejo Terendam
Ratusan Kentongan Disiagakan Untuk Halau Warga Nekat Masuk Desa
   

Mengapa Orang Kota Lebih Rentan Terkena Diabetes?
Life Style  Minggu, 17-11-2019 | 01:25 wib
Reporter :
Foto ilustrasi dok pojokpitu.com
pojokpitu.com, Peringatan hari diabetes sesungguhnya mengingatkan kembali mengenai bahaya penyakit diabetes dan pentingnya menjaga kesehatan agar tidak mengalaminya di kemudian hari. Diabetes adalah penyakit metabolik yang sering hadir tanpa disadari dan sangat sering menyebabkan komplikasi.

Berdasarkan Federasi Diabetes Internasional tahun 2017, sebanyak 425 juta orang di seluruh dunia (hampir 9 persen penduduk dunia) mengalami diabetes.

Sementara itu, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, jumlah penyandang diabetes di Indonesia juga meningkat menjadi 8,5 persen dari yang sebelumnya 6,9 persen di tahun 2013.

Penyebab masyarakat kota rentan diabetes

Diabetes bisa terjadi akibat faktor keturunan. Keadaan ini biasanya terjadi pada kasus diabetes tipe 1, yang umumnya dialami oleh sejak anak-anak atau usia remaja. Kendati demikian, diabetes tipe 1 terbilang cukup jarang terjadi.

Data yang ada menyebut bahwa hampir 90 persen kasus penyakit diabetes adalah tipe 2 yang sebenarnya dapat dicegah. Sebab, diabetes tipe 2 disebabkan oleh penerapan gaya hidup yang tidak sehat, seperti konsumsi asupan tinggi gula, lemak, kalori, serta kurang olahraga.

Ironisnya, gaya hidup tersebut banyak ditemukan pada masyarakat Indonesia, khususnya mereka yang tinggal di perkotaan.
Fenomena itu sejalan dengan hasil Riskesdas tahun 2018 yang menobatkan Jakarta sebagai kota dengan angka kejadian diabetes tertinggi di Indonesia. Pasalnya, jumlah penyandang diabetes di Jakarta terus meningkat, dari awalnya 2,5 persen pada tahun 2013 menjadi 3,4 persen di tahun 2018.

Diperkirakan bahwa jumlah penyandang diabetes yang terdapat di Jakarta hingga saat ini mencapai lebih dari 250 ribu orang.

Sayangnya, data pasien diabetes yang terdaftar di Diabetes Surveillance Data dari Dinas Kesehatan hanya 12.775 orang. Artinya, masih banyak penyandang diabetes yang masih belum tercatat dan mendapatkan pengobatan yang tepat untuk penyakitnya.

Padahal, apabila kadar gula darah pasien diabetes tidak terkontrol dengan baik, komplikasi bisa segera terjadi. Beberapa komplikasi yang dimaksud, antara lain:

Hipoglikemia. Ini adalah kadar gula darah sangat rendah, yang dapat mengakibatkan pingsan hingga kematian
Hiperglikemia. Ini adalah kadar gula darah terlalu tinggi, yang dapat menyebabkan pingsan, infeksi, hingga kematian
Gangguan pada berbagai organ vital tubuh, seperti stroke, serangan jantung, kebutaan, infeksi paru, penyakit arteri perifer, infeksi kaki diabetes, kerusakan saraf, gagal ginjal, dan lain sebagainya.

Solusi diabetes untuk masyarakat kota

Untuk mencegah diabetes dan mengontrol gula darah agar tetap stabil, yang paling penting harus dilakukan adalah menjalani gaya hidup sehat. Memang, hal tersebut tidak mudah dilakukan, apalagi bila Anda hidup sebagai masyarakat perkotaan.

Salah satu hal yang memengaruhinya adalah kemunculan berbagai gerai makanan kekinian di setiap sudut kota.

Bahkan, tidak perlu susah-susah melangkahkan kaki untuk mendapatkan sajian tersebut, penduduk kota juga dimanjakan dengan berbagai aplikasi daring. Di mana, hanya dengan satu sentuhan jari, makanan dan minuman tinggi gula, kalori dan lemak tersebut dapat sampai ke tangan untuk dinikmati.

Kondisi diperparah dengan tingkat kesibukan yang dimiliki oleh penduduk kota, yang sering membuat mereka enggan berolahraga. Padahal, olahraga yang dilakukan secara rutin dan teratur dapat membantu menurunkan risiko penyakit diabetes serta komplikasinya.

Baik masyarakat kota atau desa, tinggi atau rendahnya risiko diabetes sebenarnya berasal dari dalam diri sendiri. Apabila bertekad untuk hidup sehat dengan menjalani pola makan yang baik dan berolahraga secara rutin, Anda pasti dapat menghindari penyakit mematikan tersebut. Karena pada dasarnya, sehat itu berawal dari diri Anda sendiri.(NB/RH/klikdokter)

Berita Terkait

Diabetes Tidak Bisa Disembuhkan, Kontrol dengan 5 Cara ini

Ini Alasan Penting Tidur Cukup Bagi Penderita Diabetes

Inilah Gejala Diabetes yang Sering Diabaikan

Manfaat Pepaya Bagi Penderita Diabetes
Berita Terpopuler
Politisi Golkar : Bu Risma Milik Warga Surabaya, Bukan PDIP
Metropolis  20 jam

Dianggap Pekerja Beresiko, Belasan Jurnalis Ikuti Rapid Test
Peristiwa  20 jam

Hujan Deras Mengguyur Kecamatan Sumawe, Desa Tambakrejo Terendam
Malang Raya  10 jam

Pemudik Positif Covid-19, Keluarga dan Warga Rapid Test
Covid-19  7 jam



Cuplikan Berita
Gelombang Tinggi Terjang Pantai Selatan Lumajang
Pojok Pitu

Puluhan Rumah Warga Pantai Sine Terendam Banjir Rob
Pojok Pitu

Banjir Terjang 5 Kecamatan di Tengah Pandemi Covid-19
Jatim Awan

Dua Truk Pasir Terseret Lahar Dingin Semeru
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber