Berita Terbaru :
Bupati Tuban Bersama Forkopimda Gowes Bareng dan Bagikan Masker
Pemerintah Lumajang Cek Gudang Tembakau
Kuota Internet Dari Kemendikbud Belum Cair
Selama Pandemi Covid-19, Pusvetma Gelar Vaksinasi Rabies Secara Drive Thru Pertama Kali
Kreasi di Tengah Pandemi, Mahasiswa Tulungagung Buat Kerajinan Shadow Box Light
Sekda Ponorogo : Rp 200 M Murni Demi Masyarakat, Tidak Ada Kepentingan Politik
Hilangkan Kejenuhan, Siswa Belajar Di Alam Bebas
Tim Gabungan Gelar Operasi Yustisi di Jalur Poros Pantura
Warga Pesisir Jember Tak Terpengaruh Isu Tsunami
   

Jamaah Resek, Eksis Melestarikan Kesenian Debus
Rehat  Senin, 20-01-2020 | 08:10 wib
Reporter : Bagus Setiawan
Surabaya pojokpitu.com, Kesenian debus atau seni beladiri yang memperlihatkan kekebalan tubuh manusia, memang saat ini sudah langka. Namun siapa sangka, di Surabaya masih ada kelompok seniman debus yang tetap melestarikan warisan budaya leluhur, agar tetap eksis di era millenial.

Debus sendiri merupakan kesenian yang populer di Banten, pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanudin pada tahun 1532 sampai 1570, dan kemudian berlanjut pada zaman sultan ageng tirtayasa pada tahun 1651 sampai 1792.

Pada masa-masa itu, kesenian ini dijadikan sarana untuk memompa semangat juang rakyat banten ketika melawan penjajah Belanda.

Namun siapa yang menyangka, di Jalan Gubeng Klingsingan Gang 5 Surabaya inilah, kelompok yang menamakan jamaah resek atau restune sing kuoso, tetap melestarikan budaya leluhur dengan konsisten memainkan kesenian debus, atau seni beladiri yang mempertunjukkan kekuatan kekebalan tubuh manusia, tanpa rekayasa.

Beragam atraksi dan pertunjukkan diperlihatkan oleh jamaah resek, yang anggotanya mayoritas mantan tukang carok, bekas pembunuh, suka tawuran namun sekarang sudah bertobat.

Tidak hanya laki-laki, kaum hawa juga trampil memainkan atraksi debus, seperti tidur beralaskan pecahan kaca dilindas dengan sepeda motor, melempar jarum ke tubuh pemain debus. Bahkan yang paling ekstrim yaitu dibor dengan bor listrik, hingga menyiram dengan air keras.

Menurut Gus Metal, pimpinan padepokan jamaah resek, seni debus memang mengandalkan kekuatan keyakinan, kepercayaan diri hingga sugesti yang kuat, bahwa dalam tubuh manusia, sebenarnya memiliki kekuatan yang belum tentu manusia itu bisa menjangkaunya.

"Dengan suntikan sugesti yang kuat, manusia biasa bisa membangkitkan kekuatan dari luar dan kebal dengan benda tajam apapun. Apabila dikategorkan dalam hiburan sulap, seni debus biasanya memang erat dikaitkan dengan ilmu hipnotis," kata Irfan Riyadi.

Sementara itu, untuk membuktikan bahwa pertunjukan seni debus jamaah resek ini tidak ada sedikipun unsur rekayasa, maka Gus Metal mengajak para penonton untuk merasakan sensasi debus dengan air keras.

Nanda, salah satu penonton mengaku saat air keras diguyur ke tangannya, tidak ada rasa sakit namun hanya berasa seperti gatal tapi lama kelamaan tidak berasa apa-apa.

Meski saat ini kesenian debus mulai langka di kalangan masyarakat, namun padepokan restune sing kuoso tetap berusaha untuk melestarikan seni debus tanpa rekayasa, dengan cara mencari anggota yang ingin bergabung, agar seni debus yang merupakan seni warisan leluhur tetap abadi dan terus lestari. (yos)

Berita Terkait

Jamaah Resek, Eksis Melestarikan Kesenian Debus
Berita Terpopuler
Kuota Internet Dari Kemendikbud Belum Cair
Teknologi  3 jam

Warga Pesisir Jember Tak Terpengaruh Isu Tsunami
Peristiwa  9 jam

Hilangkan Kejenuhan, Siswa Belajar Di Alam Bebas
Pendidikan  7 jam

Tim Gabungan Gelar Operasi Yustisi di Jalur Poros Pantura
Peristiwa  8 jam



Cuplikan Berita
Viral Danramil dan Anggota Bubarkan Orkes Hajatan
Pojok Pitu

Janji Datangkan Samurai 500 M, Korban Justru Tertipu Rp 18 M
Pojok Pitu

Hingga Malam Hari Bukit Bentar Terbakar, Petugas Masih Lakukan Pemadaman Manual
Jatim Awan

Kebakaran Gudang Margomulyo, Tiga Isi Gudang Ludes Dilalap Api
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber